Detail Posyantek

Posyantek Mitra Bumi Lestari

  • Kategori : Posyantek Berprestasi
  • Nama Pengusul : Bayu Aji Prasetyo & Prasetiyadi
  • Kab/Kota : KOTA BEKASI
  • Kecamatan : BEKASI UTARA
  • Kelurahan : KALIABANG TENGAH
  • Latar Belakang :


    Permasalahan lingkungan mencakup pengelolaan sampah menjadi masalah di setiap kota/kabupaten, darurat sampah sudah terjadi dimana-mana. Kondisi saat ini menjadikan penanganan sampah bukan lagi menjadi permasalahan pemerintah daerah, akan tetapi juga menjadi permasalahan masyarakat jika tidak ingin melihat sampah ada dimana-mana disekitar pemukiman warga.

    Keberadaan sampah menjadi hal yang serius untuk ditangani terutama di kota-kota besar karena hampir semua lokasi TPA sudah over load. Jika sampah tidak ditangani dengan tepat dapat menimbulkan berbagai masalah masalah gangguan lingkungan dan kesehatan. Penanganan sampah yang umumnya menggunakan metoda “kumpul-angkut-buang” menyebabkan banyaknya masalah. Sampah makanan yang di tumpuk di TPS dan TPA mengeluarkan bau yang dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan, selain itu gas metan yang keluar dari TPA merupakan salah satu sumber timbulan emisi yang menyebabkan terjadinya pemanasan global.

    Teknologi pengolahan sampah sudah tersedia yang bahkan dapat mengolah sampah melalui pemanfaatan menjadi produk yang mempunyai nilai jual. Upaya penanganan sampah harus diawali dengan peningkatan kesadaran pentingnya melaksanakan budaya bersih di lingkungan. Pemerintah harus mendorong terus menerus sampai timbul kesadaran masyarakat untuk bersama-sama pemerintah menangani sampah.

    Posyantek Mitra Bumi Lestari hadir untuk menjadi fasilitator sekaligus eksekutor program-program yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan lingkungan yang ada di masyarakat melalui inovasi dan aplikasi Teknologi Tepat Guna (TTG). Pemilihan teknologi pengolahan harus disesuaikan dengan potensi daerah masing-masing agar produk hasil pengolahan dapat langsung diserap dan dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga menjadi kegiatan ekonomi sirkular yang dapat meningkatkan kesejahteraan. Dibutuhkan pendampingan tenaga ahli dan pemerintah sampai unit pengelolaan sampah dapat berjalan dengan sendirinya.

  • Maksud dan Tujuan :

    1.2.  Tujuan dan Sasaran

    1.       Mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam penanganan sampah

    2.       Menjaga lingkungan agar lebih bersih dan sehat

    3.       Menciptakan kegiatan sirkular ekonomi dengan mengolah dan memanfaatkan sam pah menjadi produk yang mempunyai nilai jual

    1.3.      Perumusan Masalah

    Apakah secara teknis pengolahan dan pemanfaatan sampah melalui penerapan teknologi kompos, biogas, eco-enzyme, dan pakan maggot dapat diterapkan?

    1.4.      Ruang Lingkup

    1.       Melakukan sosialisasi dan pelatihan teknologi pengolahan sampah

    2.       Melayani pembuatan unit pengolahan sampah

    3.       Melakukan pendampingan pengoperasian unit pengolahan sampah

  • Data pemanfaatan dan pengembangan TTG yang tersedia :

    1.1.      Biosaka-1 Sebagai TTG Andalan Program “Cipta Posyantek”

    3.2.1.Performa Produk

    A.    Deskripsi Biosaka-1

    Desain reaktor teknologi pengolahan biogas sampah makanan ini hasil pengembangan dari model yang sudah ada yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan di rumah, sehingga dapat meminimalisir adanya bau dan elok secara estetika. Reaktor ini terdiri dari 2 bagian utama yaitu reaktor dan gasholder; kedua bagian ini dirangkai menjadi unit yang kompak dengan fungsinya masing masing. merupakan pengembangan dari teknologi yang sudah ada.

    Bahan yang dapat digunakan untuk pembuatan reaktor ini bisa berupa plastik, pelat baja yang di lapis tahan karat, atau serat kaca (fiberglass). Dalam kasus ini dicoba dengan bahan fiberglass; dipilihnya fiberglass ini berdasarkan pertimbangan sebagai bahan yang tahan karat, kuat, dan mudah dibentuk.

    Biosaka-1 adalah hasil kreasi pengurus Posyantek Mitra Bumi Lestari. Saat ini unit Biosaka-1 masih dan terus beroperasi di Kaliabang Tengah, Bekasi Utara. Biosaka-1 berhasil menjuarai Kompetisi TTG Tingkat Kota Bekasi Tahun 2023 (Juara 1) dan Kompetisi TTG Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2023 (Juara 2). 

    B.    Cara Pembuatan Biosaka-1

     

    Tabel 3.2 Proses Pembuatan Unit Biogas Sampah Makanan Skala Rumah Tangga

    Proses

    Keterangan

    Ilustrasi

    1

    Pembuatan mal dan cetakan; menggunakan kayu dan triplek yang dipotong sesuai dengan ukuran dari volume reaktor dan gasholder yang akan dibuat.

    2

    Persiapan pelapisan dengan fiberglass dengan menyiapkan met sebagai penguat dan adonan fiberglas yang akan digunakan.

    3

    Proses pelapisan mal/cetakan yang sudah terbentuk; dengan adonan atau campuran fiberglass dan mat yang sudah disiapkan, sehingga menjadi bentuk silinder atau tangki.

    4

    Melapis tangki dengan fiberglass dan adonan yang diberi pewarna.

    5

    Merakit silinder / tangki – tangki yang sudah dibentuk menjadi reaktor biogas.

    6

    Memasang reaktor pada tempat yang sudah disiapkan dan memasang pipa distribusi biogas ke dapur.

    7

    Menyambungkan pipa distribusi biogas ke kompor sebagai pengganti LPG untuk memasak makanan sehari-hari.

     

    C.    Kelengkapan

     

    Tabel 3.3 Komponen, Kelengkapan, dan Fungsi

    No

    Nama Komponen

    Bahan

    Kuantitas

    Fungsi

    1

    Reaktor (Digester)

    Fiberglass

    1 Unit

    Merubah limbah makanan menjadi biogas dan pupuk cair

    2

    Gasholder

    Fiberglass

    1 Unit

    Menapung sementara biogas sebelum digunakan

    3

    Penampung pupuk cair

    Drum plastik

    1 Unit

    Menampung produk pupuk yang keluar dari reaktor

    4

    Sistem pemipaan dari gasholder ke dapur

    Pipe-Fitting (PVC)

    1 LOT

    Mengalirkan biogas ke kompor

    5

    Kompor biogas

    Kompor 1 unit

    1 Unit

    Sebagai alat untuk memasak makanan

     

    d.    Prosedur Pengoperasian

    1.       Start Up; dilakukan hanya satu kali saat akan digunakan yaitu dengan mengisi kotoran sapi sebanyak sekitar 300 kg diencerkan dengan air sekitar 700 liter kemudian dibiarkan selama 14 hari. Reaktor akan menghasilkan terus jika diisi umpan.

    2.       Siapkan sampah makanan kemudian dicampur air terus dihaluskan menjadi bubur.

    3.       Isi reaktor dengan sampah makanan yang sudah dijadikan bubur setiap hari.

    4.       Biogas siap digunakan sebagai substitusi bahan bakar LPG.

     

    e.    Hasil Produk

    1.       Biogas sebagai bahan bakar pengganti LPG

    2.       Efluen sebagai kompos cair untuk penyubur tanaman

     

    3.2.2.Kelayakan Teknis Teknologi Biogas Sampah Makanan

    a.     Keunggulan Teknologi/Produk

    Produk teknologi ini merupakan pengembangan dari teknologi yang ada, yaitu dengan menggabungkan dua komponen utama menjadi satu dengan output tekanan biogas yang stabil.

    b.     Inovasi Baru

    Produk teknologi ini menerapkan sistem outlet biogas dari bawah gasholder, sehingga gasholder tetap tegah saaat naik. Produk ini sudah mempertimbangkan tampilan estetika dan meminimalkan bau yang keluar. Selain itu produk ini juga sudah mempertimbangkan keterbatasan lahan di perkotaan, sehingga bisa dipasang di lahan yang terbatas atau di atas dak seperti toren air.

    c.     Orisinalitas

    Reaktor pengolahan biogas sampah makanan ini memenggunakan bahan yang ringan dan kuat dengan menumpuk unit reaktor dan gasholder menjadi satu.

    d.     Ketersediaan SDM dan Bahan Baku

    Sumber daya manusia yang diperlukan untuk membuat reaktor dan peralatan pengolahan biogas sampah makanan hanya membutuhkan keterampilan dasar pertukangan dan selanjutnya akan menjadi ahli ketika sudah membuat beberapa kali. Sedangkan bahan baku untuk membuat reaktor tersedia di pasar dan kecenderungannya akan semakin banyak seiring berkembangnya industri petrokimia di Indonesia. Bahan dasar pembuatan reaktor juga bisa menggunakan tangki/toren air yang ada di pasaran dan tinggal memilih ukuran yang sesuai.

    e.     Manfaat atau Keuntungan yang Diperoleh

    Pengoperasian reaktor Pengolahan biogas sampah makanan mempunyai banyak manfaat diantaranya sebagai berikut.

    1.   Mendapat produk biogas sebagai pengganti LPG

    2.   Mendapat pupuk cair untuk penyubur tanaman

    3.   Membantu pemerintah dalam mengatasi masalah sampah makanan

    4.   Berpotensi melahirkan kegiatan ekonomi sirkular (sampah makanan yang tadinya mengganggu lingkungan dapat dimanfaatkan dan mempunyai nilai keekonomian)

    5.   Melahirkan budaya peduli lingkungan dengan turut berperan aktif melalui upaya penurunan emisi gas rumah kaca

     

    3.2.3.Kelayakan Ekonomis

    a.       Marketable

    Produk akan laku di pasaran jika konsumen mendapatkan manfaat dan kepuasan setelah membeli dan menggunakan produk tersebut. Tujuan utama penerapan teknologi pengolahan sampah makanan adalah menyelesaikan masalah lingkungan, sehingga lingkungan hidup menjadi lebih sehat dan terjadinya penurunan emisi GRK. Produk biogas dan kompos cair yang dihasilkan merupakan bonus dari pengoperasian teknologi ini. Pengolahan biogas sampah makanan skala rumah tangga akan layak secara finansial untuk dioperasikan jika terjadi kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan peran serta masyarakat. Pemerintah dapat mendukung dengan melahirkan aturan, kebijakan, sistem bisnis proses, dan stimulan bantuan pendanaan serta pengadaan sarana dan prasarana. Swasta dapat berperan dalam penyediaan jasa teknologi, distribusi, dan percepatan teknologi dan informasi. Masyarakat dapat menjadi aktor utama yang berperan dalam aplikasi sehari – hari. Penjelasan lebih lanjut sebagai berikut.

    1.   Sampah sudah menjadi permasalahan serius di tiap kota/kabupaten. Penanganan sampah (kumpul-angkut-buang dan penanganan TPA) membutuhkan biaya yang sangat besar. Sampah juga merupakan sumber timbulan emisi yang harus dikendalikan. Dengan banyaknya manfaat penerapan teknologi ini hasil analisa ekonomi akan bernilai positif dan harusnya pemda mau membeli atau membuat pilot-plan-nya dulu; misalnya di kelurahan, kecamatan, atau pasar tradisional.

    2.   Perusahaan/industri perlu diperkenalkan dengan teknologi ini karena tuntutan penurunan emisi terutama industri menengah besar. Selain itu penerapan teknologi ini akan meningkatkan kesadaran tanggung jawab akan lingkungan yang selanjutnya dapat mengangkat brand perusahaan itu sendiri sebagai bentuk kepedulian akan lingkungan dan bisnis yang berkelanjutan.

     

    b.       Meningkatkan Pendapatan Masyarakat (Kemajuan Ekonomi)

    1.   Teknologi tepat guna pengolahan biogas sampah makanan skala rumah tangga merupakan salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk mengolah sampah dari sumbernya. Penerapan teknologi ini dapat meminimalisir munculnya bau dari sampah yang membusuk dan meningkatkan kesehatan lingkungan.

    2. Tantangan pengoperasian jalannya proses pengo

  • Data Jenis TTG yang dibutuhkan masyarakat :

    Komposisi sampah terbesar adalah sampah organik, jenis sampah ini yang umumnya basah dan menimbulkan bau yang mencemari lingkungan kondisi ini menyulitkan penanganan berikutnya. Telah disadari bahwa penanganan sampah organik akan lebih mudah jika ditangani dari sumber timbulannya. Sosialisasi dan aksi memilah sampah organik dari sumbaernya sudah dilaksanakan, akan tetapi tindak lanjut setelah sampah ini terkumpul belum ditentukan dan ditunjuk siapa yang harus menangani sampah terpilah ini sehingga pada akhirnya sampah tersebut dubuang lagi ke TPA dan tercampur dengan sampah lainnya.

    Kondisi penanganan sampah saat ini menimbulkan keprihatinan sekaligus merupakan tantangan untuk dihadapi. Sesungguhnya sampah terpilah adalah merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan. Telah tersedia teknologi pengolahan sampah organik melalui pemanfaatan menjadi; biogas, kompos, pakan maggot dan eco-enzyme. Pengolahan sampah melalui pemanfaatan akan memunculkan ekonomi sirkular yang selain dapat mengatasi masalah lingkungan juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

  • Administrasi dan manajemen kelembagaan :

    Visi:

    Menjadi posyantek unggulan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya berlandaskan prinsip integritas dan profesionalisme

    Misi:

    1.       Merancang dan melaksanakan program-program kerja yang bersifat edukatif dan inovatif kepada komunitas dan masyarakat

    2.       Memfasilitasi akses atas pelayanan teknis, pelayanan informasi, dan promosi terkait dengan Teknologi Tepat Guna (TTG) kepada komunitas dan masyarakat

    3.       Melaksanakan penelitian dan pengembangan secara berkelanjutan terkait dengan TTG

    4.       Menjalin kerjasama dan koordinasi yang efektif antar pemangku kepentingan (komunitas masyarakat, pemerintah, swasta / industri) dalam rangka pemanfaatan TTG

    Ketua                                      : Ir. Prasetiyadi

    Sekretaris                              : Achmad C. Muammar, S.Tr.Kom

    Bendahara                             : Safina Tunnajah

    Seksi Kemitraan                   : Iis Purwaningsih, M.Pd

    Seksi Pelayanan Usaha & TTG       : Ir. Nur Aryanto Aryono

    Seksi Pengembangan TTG : Bayu Aji Prasetyo, S.Tr., MBA

     

    Uraian Tugas dan Tanggung Jawab

    Ketua

    1.       Bertindak sebagai manager pelaksana kegiatan harian posyantek

    2.       Menjalankan rencana kegiatan dan rencana anggaran yang telah disusun oleh penguru

    3.       Menjalankan kebijakan dan ketentuan yang berlaku di posyantek

    4.       Mengatur dan mengkoordinir kegiatan yang dilakukan oleh setiap seksi

    5.       Mempertanggungjawabkan kegiatan harian posyantek kepada pengurus (laporan kegiatan dan laporan keuangan)

    6.       Memberikan masukan kepada pengurus dalam rangka menyusun rencana kegiatan dan rencana anggaran tahunan

    Sekretaris

    1.       Bertanggung jawab atas seluruh dokumentasi kegiatan, seperti surat menyurat dan dokumen kerjasama

    2.       Berkoordinasi dengan ketua dan seluruh seksi dalam mendukung pelaksanaan tugas dan program kerja organisasi

    Bendahara

    Bertugas mengelola pencatatan keuangan organisasi berasaskan prinsip kehati-hatian dan akuntabel

    Seksi Pelayananan Usaha & TTG

    1.       Menjalankan fungsi koordinasi terkait komunikasi dan kerjasama dengan pihak eksternal organisasi kepada seluruh pengurus internal organisasi

    2.       Menjalin dan menjaga hubungan kerjasama dengan sumber TTG (lembaga pemerintah, perguruan tinggi, swasta, LSM dan pihak terkait lainnya)

    3.       Menjalin dan menjaga hubungan kerjasama dengan pemanfaat/pengguna TTG (masyarakat umum, petani, nelayan, UMKM, dll)

    4.       Mengidentifikasi potensi dan peluang pemasaran bagi komunitas masyarakat, pemerintah, swasta / industri

    Seksi Kemitraan

    1.       Menyusun kajian dan rencana program kerja organisasi sesuai dengan visi misi organisasi

    2.       Menjadi koordinator dalam kegiatan atau program kerja yang terkait dengan sosialisasi kepada masyarakat dalam rangka; Pengenalan dan penggunaan TTG; Pendampingan dan bimbingan teknis kepada pemanfaat/pengguna TTG; Pengelolaan kegiatan usaha produktif posyantek yang berkaitan dengan pelayanan TTG.

    3.       Menyusun kajian dan evaluasi terkait dengan pengembangan organisasi secara internal

    4.       Bekerja sama dengan seksi informasi dan layanan masyarakat terkait dengan pengembangan organisasi secara eksternal melalui kerjasama dengan pemangku kepentingan lainnya (komunitas masyarakat, pemerintah, swasta / industri)

    Seksi Pengembangan TTG

    1.       Mengidentifikasi dan melakukan pendataan kebutuhan masyarakat akan TTG

    2.       Melakukan kajian dan pengembangan terhadap TTG yang sudah ada/dipakai oleh masyarakat

    3.       Melakukan pembahasan dan eksekusi pengembangan inovasi TTG untuk diaplikasikan ke masyarakat

     

  • Laporan Kegiatan : Download
  • Prestasi dan Penghargaan : Download
  • Link Video : https://youtu.be/2wzxSj-OTu4?feature=shared